SEJARAH DESA PONGANGAN
Sejarah Desa Pongangan tidak terlepas dari sejarah Masyarakat Desa Pongangan kecamatan Manyar di Kabupaten Gresik. Pada abad 14 M zaman Hindu disaat Kerajaan Mojopahit mengalami zaman keemasan, nenek moyang kita telah mendiami wilayah Desa Pongangan terbukti dengan adanya kampung Candi yang namanya diperoleh akibat hubungan perdagangan yang sangat lancar antar daerah maupun luar negeri, dengan membuka pelabuhan di Gresik, Surabaya, dan Tuban serta Canggu yang banyak dikunjungi pedagang dari India, Arab, dan Cina (M.Hasan; 1997, 77) terbukti dengan adanya makam Candi yang terletak di sebelah barat laut Desa Pongangan sampai sekarang masih ada dan ini membuktikan bahwa di sekitar tempat ini ada perkampungan kecil yaitu kampung Candi.
Sampai tahun 1825 M masyarakat kampung Candi masih tetap bertahan, bahkan konon kabarnya semua masyarakatnya sangat kaya raya, mata pencaharian berdagang dan bercocok tanam. Semakin lama wilayah Pongangan bertambah lagi, sehingga menjadi 3 kampung yaitu kampung Candi, kampung Pomahan, dan kampung Pamongan. Adapun lokasinya sebagai berikut :
- Kampung Candi : wil.sebelah Barat Laut (sekarang RT 4 RW 7)
- Kampung Pomahan : wil.sebelah Selatan (sekarang RT 1 RW 1)
- Kampung Pamongan : wil.sebelah Timur Laut(sekarang RT 3 RW 7)
Dikisahkan bahwa Kampung Pamongan dulu terdapat tiga orang santri, dua diantaranya masih ada hubungan darah dengan keluarga Sunan Giri, yaitu Mbah Nolowongso dan Mbah H. Sholeh, keduanya diberi tugas oleh Sunan Giri untuk berdakwah di Desa Pongangan (Nolowongso) dan yang satunya berdakwah di Desa Suci (H.Sholeh) yang makamnya di atas Gunung Suci (Mbah Buyut Sholeh).
Mbah Nolowongso disertai seorang pengawal pribadi dalam menjalankan dakwahnya di Desa Pongangan hingga akhir hayat beliau dan dimakamkan di komplek pemakaman Kampung Pamongan, Beliau tidak hanya dibekali ilmu keagamaan namun juga disertai ilmu kanoragan sehingga beliau disegani rakyat, bahkan ditakuti karena kesaktiannya, sehingga beliau dipercaya masyarakat sebagai pamong atau pendidik dengan segala resiko yang mengancam masyarakat, beliaulah yang menanggungnya. Oleh sebab itu, setelah beliau wafat namanya masih dikenang masyarakat sebagai nama kampung, yaitu Pamongan dan lokasi makamnya disebut Makam Penanggungan atau Mbah Buyut Tanggungan (H. Mas’ud; 2006).
Pada kisah yang lain,sedang menimpa masyarakat Kampung Candi, dimana saat itu terjadi perampokan besar-besaran, sehingga semua masyarakat mengungsi ke tempat-tempat yang dianggap aman, ada yang bergabung dengan saudaranya yang ada di Kampung Pamongan maupun Kampung Pomahan, bahkan ada yang keluar dari Desa Pongangan, yaitu Desa Dahan Rejo Kecamatan Kebomas dan ada yang ke Desa Leran Kecamatan Manyar (H. Mas’ud; 2006).
Untuk menetapkan Hari Jadi Desa Pongangan, penulis berpedoman pada saat dikukuhkannya Petinggi (Pejabat Tinggi) Bapak Tasrif Alm. Oleh masyrakat pada hari Jum’at Legi tanggal 04 Agustus 1893 M (H. Mas’ud; 2006). Hari dan tanggal tersebut setelah diketahui tahunnya kemudian diambil rumus penentu hari dan pasaran. Pada saat itu situasi Kabupaten Gresik dalam Transisi Pemerintahan yang dilebur menjadi satu dengan Surabaya, dimana sebelumnya Kabupaten Gresik berdomisili di Tandes (Surabaya) Bupatinya diangkat oleh Mataram dan Benda, sedangkan gaya Jabatannya ada Bupati Kasepuhan dan Bupati Kanoman. Dalam perkembangan selanjutnya Kabupaten Gresik dijadikan Pusat Pemerintahan yang berstatus Kawedanan (setingkat Pembantu Bupati) di Surabaya yang pada Tahun 1847-1962 Bupatinya dijabat oleh Kyai Tumenggung Harjohadi Negoro II (Warta Giri; 2003, 25). Untuk lebih jelasnya penulis sampaikan para Petinggi Desa Pongangan sejak ditetapkannya Hari Jadi Desa Pongangan sebagaimana pada tabel :
Nama-nama Pejabat dan Penjabat Kepala Desa Pongangan
|
NO |
NAMA KEPALA DESA |
TAHUN MENJABAT |
|
1 |
Bpk. Tasrif Alm. |
1893-1908 |
|
2 |
Bpk. KH. Syafi’i Alm. |
1909-1910 |
|
3 |
Bpk. Marja’is Alm. |
1911-1921 |
|
4 |
Bpk. Kasra’i Alm. |
1921-1947 |
|
5 |
Bpk. Rahmad Alm. |
1947-1974 |
|
6 |
Bpk. H. Syarifan Alm. |
1974-1978 |
|
7 |
Bpk. H. Ach. Fadlil Alm. |
1978-1990 |
|
8 |
Bpk. H. Arofi Alm. |
1990-2007 |
|
9 |
Bpk. Slamet Hermanto |
2007-2013 |
|
10 |
Bpk. Abdul Wahab NS |
2013-2018 |
|
11 |
Bpk. Misbahuddin S.Pdi ( PJ ) |
2018-2019 |
|
12 |
Bpk. Aang Chunaifi,ST |
2019-2025 |